Desember yang basah oleh tetes air hujan, jatuh terdengar di malam sabtu. Suara yang kudengar dari balik gelombang radio yang diterima oleh ponselku menarik bibirku tersenyum senang. Suaranya lembut setengah berbisik mengucapkan kata sayang kepadaku.
“ Sayangku, my Honey, cintaku..”, telingaku bergetar ringan, dadaku berdetak cepat memompa aliran darah di jantungku. Entah mengapa hari ini terlihat indah meski langit tak bosan-bosannya memuntahkan air hujan. Akan tetapi kepalaku mencegahnya masuk dalam antrian yang harus kupikirkan. Aaku membuat bayangan wajahnya dalam kepalaku, mencoba untuk menarik garis abstrak membentuk wajahnya yang kurindu.
“Ah..”, tanpa malu aku memintanya untuk menarik pelatuk suaranya agar terus kudengar, memintanya untuk membisiki telingaku dengan suara kebahagiaan. Tulangku lemas, lelah, lunglai , takjub .. aku ingin menghentikan waktu agar bisa terus mendengar bisikannya. Mataku terpejam, belaian lembut nafasnya meniup telingaku.
Tut…tuuut….tuut…
Klik..
Jumat, Januari 09, 2009
Minggu, Desember 28, 2008
SORROW 4 NIGHT
Malam ini, dini hari setelah hari natal. Entah.. tiada bisikan yang terdengar ditelingaku malam ini, semangat pun pas-pasan kurasa. Akan tetapi seakan ada sesuatu yang meracuni kepalaku dan menggerakkan jariku untuk menekan tuts keyboard. Kata demi kata terjalin menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf. Hum… Aku menarik nafas panjang dan begitu merasa cukup dengan apa yang ku ketik. Kutatap layar monitor membaca apa yang telah kuketik tanpa sadar.
“Woow….!”, Pikirku
Kalimat demi kalimat ku ku baca, kueja semua. Dan, apa yang terjadi ? Sampah..! yap.. anti Midas kujuluki diriku. Semua yang tersentuh olehku menjadi sampah. Dengan iklas ku hapus semua paragraf yang ada di monitor. Apa yang kulakukan?? Ilham tidak menyapaku, mendekatiku saja enggan. Banyak ide-ide,opini, dan masalah yang membebani kepalaku seakan ingin menarik keluar otakku dan membantingnya dilantai.
Malam menjadi semakin berat ku rasa, kulirik jam yang ada dilayar handphone , hemm.. pukul 03:03 dini hari menjelang pagi. Semua keinginan ada dalam kepalaku kecuali satu, tidur. Yah.. aku ingin tidur akan tetapi mataku tak mau kompromi, bahkan tubuhkupun mendukungnya dengan menolak keinginanku untuk tidur. Aku merasa terpenjara diriku sendiri. Bakan keinginanku untuk menulis malam inipun timbul tenggelam.
Pikiranku menjadi berat, aku ingat dia.. yah.. aku ingat dia. Aku ingat kalau ia tidak pernah tersenyum seperti aku ingat dia sekarang. Aku ingin menulis senyumnya di lembar ini agar abadi, buat diriku. Tapi jariku yang “kesurupan” pun tidak dapat menolongku. Sedikit demi sedikit senyumnya menjauh dari bayanganku, pudar.. ingin ku tahan, menangkap dan menyegelnya, tapi apalah daya.
Brak!! Buk.. gedebuk..
Estan.. rutukku, suara benda jatuh menarikku kembali ke kenyataan. Aku kembali melirik waktu yang tertera di layar handphome, pukul 03:20. Balnk.. Kosong
Hah.. kembali aku menarik nafas panjang. Apakah ini akan berlanjut terus seperti ini ataukah diriku mampu merubahnya, sedikit perubahan itu obat yang aku butuhkan.
Selimut abstrak maya kembali membentuk dimensi abstrak di kepalaku. Ia semakin menjadi kuat terlihat, besar seakan ingin menelanku bulat persegi enam. Aku ingin melawannya akan tetapi sorak sorai dukungan yang aku harapkan dari malah berbalik. Pekikan itu malah ditujukan untuk dia yang ingin kulawan. Aku kuatkan pikiranku, kutulikan telingaku, tanganku terkepal kuat. Perlahan tapi pasti, rasa itu membentuk tameng di sekitarku, meskipun gemetar kuambil langkah menghampirinya. Kutatap ia dengan tajam. Luapan keinginanku yang tertahan meledak keluar dari mulutku dan suara itu membuatku merasa menang. “ BIARKAN AKU TIDUR, ESTAN..!!”, Mataku terasa berat, tulang-tulangku lemah, bahkan tubuhku tidak mampu ku gerakkan, aku melihat diriku tersenyum, aku menang…
Dan aku pun terbang menemani dirinya, dengan senyum yang indah seperti yang kulihat saat ini.
Bibirku lemah mengucapkan lirih kata.. AKU SAYANG KAMU
Pukul 03:45
z..z..z..z..Z..Z..Z..Z..Z..Z..Z
“Woow….!”, Pikirku
Kalimat demi kalimat ku ku baca, kueja semua. Dan, apa yang terjadi ? Sampah..! yap.. anti Midas kujuluki diriku. Semua yang tersentuh olehku menjadi sampah. Dengan iklas ku hapus semua paragraf yang ada di monitor. Apa yang kulakukan?? Ilham tidak menyapaku, mendekatiku saja enggan. Banyak ide-ide,opini, dan masalah yang membebani kepalaku seakan ingin menarik keluar otakku dan membantingnya dilantai.
Malam menjadi semakin berat ku rasa, kulirik jam yang ada dilayar handphone , hemm.. pukul 03:03 dini hari menjelang pagi. Semua keinginan ada dalam kepalaku kecuali satu, tidur. Yah.. aku ingin tidur akan tetapi mataku tak mau kompromi, bahkan tubuhkupun mendukungnya dengan menolak keinginanku untuk tidur. Aku merasa terpenjara diriku sendiri. Bakan keinginanku untuk menulis malam inipun timbul tenggelam.
Pikiranku menjadi berat, aku ingat dia.. yah.. aku ingat dia. Aku ingat kalau ia tidak pernah tersenyum seperti aku ingat dia sekarang. Aku ingin menulis senyumnya di lembar ini agar abadi, buat diriku. Tapi jariku yang “kesurupan” pun tidak dapat menolongku. Sedikit demi sedikit senyumnya menjauh dari bayanganku, pudar.. ingin ku tahan, menangkap dan menyegelnya, tapi apalah daya.
Brak!! Buk.. gedebuk..
Estan.. rutukku, suara benda jatuh menarikku kembali ke kenyataan. Aku kembali melirik waktu yang tertera di layar handphome, pukul 03:20. Balnk.. Kosong
Hah.. kembali aku menarik nafas panjang. Apakah ini akan berlanjut terus seperti ini ataukah diriku mampu merubahnya, sedikit perubahan itu obat yang aku butuhkan.
Selimut abstrak maya kembali membentuk dimensi abstrak di kepalaku. Ia semakin menjadi kuat terlihat, besar seakan ingin menelanku bulat persegi enam. Aku ingin melawannya akan tetapi sorak sorai dukungan yang aku harapkan dari malah berbalik. Pekikan itu malah ditujukan untuk dia yang ingin kulawan. Aku kuatkan pikiranku, kutulikan telingaku, tanganku terkepal kuat. Perlahan tapi pasti, rasa itu membentuk tameng di sekitarku, meskipun gemetar kuambil langkah menghampirinya. Kutatap ia dengan tajam. Luapan keinginanku yang tertahan meledak keluar dari mulutku dan suara itu membuatku merasa menang. “ BIARKAN AKU TIDUR, ESTAN..!!”, Mataku terasa berat, tulang-tulangku lemah, bahkan tubuhku tidak mampu ku gerakkan, aku melihat diriku tersenyum, aku menang…
Dan aku pun terbang menemani dirinya, dengan senyum yang indah seperti yang kulihat saat ini.
Bibirku lemah mengucapkan lirih kata.. AKU SAYANG KAMU
Pukul 03:45
z..z..z..z..Z..Z..Z..Z..Z..Z..Z
Senin, Desember 15, 2008
Proud
Perasaan bangga dan takut menjalari leher ku membuatku merinding. Tapi aku bangga dengan karena saat ini, di tempat ini juga aku sungguh-sungguh menginginkannya. Yah.. yudisium.. bentuk penghormatan terakhir dari strata yang akan aku pikul di pundak untuk di pertanggung jawabkan ke hadapan masyarakat. Ah.. rasa yang menakjubkan. kerja keras, trik tipu-tipu, mengorbanan atas semua hasil dari bentuk penelitian yang aku lakukan untuk menipu institusi agar memberiku gelar terbayar sudah setelah 5 tahun perjuangan yang berat. Kelebatan bayangan akan kenangan melintas membuatku ingat akan kesalahan-kesalahanku pada para pendidik yang luar biasa sabar menghadapi kami dan tetap sabar memberikan kami ilmu yang juga luar biasa.
Sungguh perasaan yang tidak terlukiskan menerima bentuk kehormatan ini. Ini boleh di sebut sebagai hal yang menyenangkan untukku. Aku ingin berterima kasih kepada teman-teman yang turut membantu. I KNOW THEY DO. terimakasih sobat....
Sungguh perasaan yang tidak terlukiskan menerima bentuk kehormatan ini. Ini boleh di sebut sebagai hal yang menyenangkan untukku. Aku ingin berterima kasih kepada teman-teman yang turut membantu. I KNOW THEY DO. terimakasih sobat....
Langganan:
Postingan (Atom)