Rabu, Januari 21, 2009

Lelah

Siang ini langit mendung, awan tebal. Tapi hal ini tak membuat surut langkah kami untuk berpetualang di tengah kejamnya kota dan padatnya manusia yang hilir mudik dengan tujuannya masing-masing. Langit mulai menjatuhkan butir-butir air dengan perlahan, wajah kami mulai basah olehnya akan tetapi tidak membuat semangat kami surut, motto kami “ Maju Perut, Pantat mundur”.
Di antara hawa manusia yang berjubel di salah satu pusat perbelanjaan, pun tidak membuat kami menyerah..

Idle

Kosong…
Ruang waktu serasa lapang ketika berjalan tanpa ada satupun hal yang mengganggu, akan tetapi rasa bosan perlahan menguasai hanya tawa yang bisa mengusirnya dan memang hanya itu yang ingin ku dengar. Ketakberdayaan akan waktu, hanya bisa mengikuti tanpa ada kuasa untuk bisa menghentikannya atau mempercepatnya.
Serasa mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi..
Dimensi membelai permukaan wajah dengan tajam, mensasi kosong memacu adrenalin untuk tidak berbuat apa-apa, walaupun hanya sementara, akan tetapi luar biasa untuk bisa melupakan rasa itu,I Wish Nobody Can’t Fly…

Minggu, Januari 11, 2009

Memori

Enteng... paling tidak itu yang kurasakan dalam menyelesaikan urusanku siang hari tadi. Semua berjalan dengan mulus, walaupun sebenarnya aku bangun"agak" kesiangan (wecong.. padahal bangunnya emang siang banget). Perlahan tapi pasti rasa percaya diri menyelubungi semangatku siang itu.
Siang ini aku aku teringat sobat-sabit, entah apa yang sedang mereka lakukan, tapi aku berharap yang terbaik untuk mereka. Semangat mereka.. canda.. marah.. bahkan rasa benci yang ditujukan padaku.
Semoga urusan mereka bisa semudah dan selancar aku hari ini

Jumat, Januari 09, 2009

FRIENDSHIP


Angin dingin berhembus membelai wajahku dengan lembut, malam ini seorang sahabat telah pergi meninggalkanku. Ia pergi kembali ke tanah kelahirannya dan kemungkinan besar aku tak akan pernah melihatnya kembali, kecuali dengan izin Allah. Dua puluh menit lagi kapal itu akan berangkat, kepanikkan terlihat di wajah sahabatkku, akupun merasakan kepanikan itu, akan tetapi aku berusahan untuk tetap berwajah tenang dan diam, hanya tindakan yang perlu. Dan itulah yang kulakukan. Aku mendengar suaranya bergetar waktu ia memegang tanganku dan berkata kalau tangannya dingin. Yah.. saat itu kami panik, panik karena kapal akan segera berangkat, panik karena lembar tiket sama sekali belum ada ditangan, panik karena kami tidak akan berjumpa, mungkin untuk waktu yang lama. Aku bergegas dengan sigap mengahantar dan membawa barang-barangnya yang jumlahnya tidak sedikit,halangan itu tetap datang bahkan seolah halangan itu tetap merintangi mulai dari para buruh yan tidak bisa diajak kerjasama sama sekali hingga petugas pelabuhan yang tidak punya hati.
Saat itu kami panik…
Ku hembuskan nafas panjang setelah semuanya terlewati, sahabatku tersayang telah berada diatas kapal, 2 menit lagi kapal akan berangkat, angin malam yang dingin menyapu bulir-bulir keringat di wajah dan leherku, sejuk kurasakan.
Dari luar dek 4 wajahnya nampak dari banyaknya kerumuranan manusia yang menatap kami dibawah, ia melambaikan tangan dan tersenyum, aku menangkap gerak bibirnya berkata,
“ Terimakasih Banyak.. ”
Ku lambaikan tanganku kepadanya, “Selamat Jalan Sahabat ..”,

BAD LUCK

Suara motor terdengar di telingaku, tanganku santai memegang gagang gas, perlahan tapi pasti ia datang mengucap salam padaku, salamnya menggelitik nasib burukku segera kakiku menginjak rem dengan tiba-tiba panik merayap menjalari belakang leherku.
Brakk………………
Ia tertawa melihatku meneteskan keringat dingin, aku diam dalam panikku, aku terkesima untuk sesaat dan kemudian mampu mengendalikan diri beberapa detik kemudian. Aku tersenyum balik pada nya dan berterimakasih atas hadiahnya di hari tanggal satu januari ini.
Aku kembali berjalan dengan perlahan dan menyimpan senyumku untuknya lain kali jika ia datang lagi, aku akan bersiap untuk itu dan akan kubuktikan padanya bahwa aku memang rapuh.
Suara motor terdengarmelambat dan berhenti………………..
Ia kembali menyapa, tapi tak kuhiraukan karena ia adalah sang musibah

VIBRATION

Suaranya nyaris tak terdengar, hanya getaran, yah hanya getaran. Tanganku lemah untuk meraihnya. Perasaan enggan tak mampu mengerakkan tubuhku menuju suara getaran tersebut.
“rrrrrRRRRR..”, tclak..
Suara itu berhenti, mataku perlahan terbuka.

VOICE OF JOY

Desember yang basah oleh tetes air hujan, jatuh terdengar di malam sabtu. Suara yang kudengar dari balik gelombang radio yang diterima oleh ponselku menarik bibirku tersenyum senang. Suaranya lembut setengah berbisik mengucapkan kata sayang kepadaku.
“ Sayangku, my Honey, cintaku..”, telingaku bergetar ringan, dadaku berdetak cepat memompa aliran darah di jantungku. Entah mengapa hari ini terlihat indah meski langit tak bosan-bosannya memuntahkan air hujan. Akan tetapi kepalaku mencegahnya masuk dalam antrian yang harus kupikirkan. Aaku membuat bayangan wajahnya dalam kepalaku, mencoba untuk menarik garis abstrak membentuk wajahnya yang kurindu.
“Ah..”, tanpa malu aku memintanya untuk menarik pelatuk suaranya agar terus kudengar, memintanya untuk membisiki telingaku dengan suara kebahagiaan. Tulangku lemas, lelah, lunglai , takjub .. aku ingin menghentikan waktu agar bisa terus mendengar bisikannya. Mataku terpejam, belaian lembut nafasnya meniup telingaku.
Tut…tuuut….tuut…
Klik..