Kamis, Mei 21, 2009

Momento

Sebuah perjalanan yang menyenangkan terjadi. Perjalanan yang dilakukan oleh aku bersama kawan karibku kesuatu tempat yang berada di luar kota kelahiranku, kota yang telah beberapa kali kukunjungi ketika aku masih kecil dalam masa-masa sekolah dasar. Walaupun sebenarnya perjalanan ini dapat di tempuh kurang lebih satu jam, akan tetapi medan yang dihadapi tidak memungkinkan kami untuk tampil ”performance” secara kualitas. Jalan yang banyak berlubang setiap 10 meter, terkadang kami menjumpai jalan yang mulus teraspal meskipun hanya kurang lebih satu kilometer, apa boleh buat ulah pemerintah. Bukan hanya peralatan rumah tangga yang dapat dikredit, pembangunan jalanpun bisa dicicil, dari setiap ( hanya kemungkinan besar ) 10 kilometer jalan ada satu kilometer jalan yang teraspal mulus, sisanya menurut kawan perjalananku, hanyalah lubang galian sumur. Kota yang kuanggap dan kebanyakan orang mengingatnya dengan kota penghasil bahan pembuat jalan alami, ternyata kondisinya menyedihkan hatiku.

Prihatin........

Kesan yang kurasakan setibanya dikota tujuan adalah kesan yang luar biasa, seakan rasa yang dulu hilang akan kota ini, kembali menyambutku hangat. Masyarakatnya yang luar bisa, keramahannya, terutama rasa dan pemandangannya. Yah, apaboleh buat tanpa rasa terpaksa, aku mengakui bahwa aku tertarik akan kota ini. Meskipun kadang aku mengatakan pada setiap kota yang aku kunjungi aku merasakan perasaan yang sama, akan tetapi rasa ini tetap membekas setiap kali aku menginjakkan kaki di kota ini.

Pertemuan kembali bersama sahabat-sahabat lama, menyenangkan. Aku tidak berharap banyak, godaannya menarikku, wosssh...

Ku berharap dapat tinggal lebih lama di kota ini, akan tetapi rutinitas dan tugas kembali memanggilku. Seperti celoteh seorang sobat “ Aku ingin tinggal lebih lama, akan tetapi negara lebih membutuhkanku “.

Selesai shalat Jumat kami kembali bertarung melewati medan, yang masih dengan senjata andalannya, jalan yang berlubang-lubang, tanjakan dan udara yang sejuk. Letih tidak kami pungkiri, akan tetapi rasa puas terselip manis di kalbu kami. Kawan, aku tidak rindu akan tanjakan dan lubang yang ada di setiap badan jalan, aku hanya rindu perjalanannya dan pijakan kaki di kotanya.

Begitu banyak hal yang ingin kuceritakan, begitu banyak warna yang ingin ku perlihatkan, begitu banyak rasa yang ingin ku berikan. Tapi, maaf aku hanya ingin kau sendiri yang merasakannya agar kau bisa merasakan keindahannya, agar kau bisa merasakan apa yang kurasakan.

Nice Trip Buddy..

Keep The Feel same..