Perjalanan baru menuju daerah baru dengan latar budaya yang hampir mirip dengan daerah asalku kumulai pada hari selasa dengan mengendarai raksasa pelni . Perjalanan ke Ambon dimulai dengan alat transportasi pelni yang agak mengecewakan, yang seharusnya tempat tujuan bisa di capai dengan waktu kurang lebih 18 jam, kenyataan di lapangan berkata lain dan 25 jam perjalanan menuju ambon pun terasa lama. Rasa tidak sabar dan was-was selalu menyelimuti perasaan. Pertanyaan-pertanyaan kapan kakiku dapat menginjak tanah pattimura berkecamuk dalam pikiranku.
Alhamdulillah perjalanan yang lumayan panjang sirna ketika sahabatku datang menjemputku walaupun saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 01.03 malam dengan senyum hangat dan wajah sok manisnya dengan penuh keharuan kami bertemu setelah hampir kurang lebih 2 tahun kami berpisah. Tanah pattimura here I come…..
Sebuah perbedaan kultur budaya dan sosial yang aku amati tidak terlalu menyolok dengan budaya asalku. Yang menurut pengakuan masyarakat sekitar di karenakan kebanyakan penduduk daerah pattimura adalah terdiri dari perantau-perantau yang berasal dari tanah buton sejak beratus-ratus tahun dahulu. Masyarakat yang sebaghian besar terdiri dari para pedagang, berpengaruh penting bagi kehidupan di rana pattimura. Ambon Manise adalah julukan yang diberikan unutk kota ambon yang seraca langsung bisa kulihat dan kurasakan kemanisannya. Sebuah kota yang penuh dengan eksotika, pemandangan alamnya yang luar biasa cantik dan teluknya yang indah memberikan warna tersendiri.
Tempatku menginap bernama wayame yang berada di ujung kota ambon, untuk menuju wayame memerlukan waktu sekitar 55 menit dengan mengendarai alat angkutan umum atau sekitar 30 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua