Minggu, Desember 28, 2008

SORROW 4 NIGHT

Malam ini, dini hari setelah hari natal. Entah.. tiada bisikan yang terdengar ditelingaku malam ini, semangat pun pas-pasan kurasa. Akan tetapi seakan ada sesuatu yang meracuni kepalaku dan menggerakkan jariku untuk menekan tuts keyboard. Kata demi kata terjalin menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf. Hum… Aku menarik nafas panjang dan begitu merasa cukup dengan apa yang ku ketik. Kutatap layar monitor membaca apa yang telah kuketik tanpa sadar.
“Woow….!”, Pikirku
Kalimat demi kalimat ku ku baca, kueja semua. Dan, apa yang terjadi ? Sampah..! yap.. anti Midas kujuluki diriku. Semua yang tersentuh olehku menjadi sampah. Dengan iklas ku hapus semua paragraf yang ada di monitor. Apa yang kulakukan?? Ilham tidak menyapaku, mendekatiku saja enggan. Banyak ide-ide,opini, dan masalah yang membebani kepalaku seakan ingin menarik keluar otakku dan membantingnya dilantai.
Malam menjadi semakin berat ku rasa, kulirik jam yang ada dilayar handphone , hemm.. pukul 03:03 dini hari menjelang pagi. Semua keinginan ada dalam kepalaku kecuali satu, tidur. Yah.. aku ingin tidur akan tetapi mataku tak mau kompromi, bahkan tubuhkupun mendukungnya dengan menolak keinginanku untuk tidur. Aku merasa terpenjara diriku sendiri. Bakan keinginanku untuk menulis malam inipun timbul tenggelam.
Pikiranku menjadi berat, aku ingat dia.. yah.. aku ingat dia. Aku ingat kalau ia tidak pernah tersenyum seperti aku ingat dia sekarang. Aku ingin menulis senyumnya di lembar ini agar abadi, buat diriku. Tapi jariku yang “kesurupan” pun tidak dapat menolongku. Sedikit demi sedikit senyumnya menjauh dari bayanganku, pudar.. ingin ku tahan, menangkap dan menyegelnya, tapi apalah daya.
Brak!! Buk.. gedebuk..
Estan.. rutukku, suara benda jatuh menarikku kembali ke kenyataan. Aku kembali melirik waktu yang tertera di layar handphome, pukul 03:20. Balnk.. Kosong
Hah.. kembali aku menarik nafas panjang. Apakah ini akan berlanjut terus seperti ini ataukah diriku mampu merubahnya, sedikit perubahan itu obat yang aku butuhkan.
Selimut abstrak maya kembali membentuk dimensi abstrak di kepalaku. Ia semakin menjadi kuat terlihat, besar seakan ingin menelanku bulat persegi enam. Aku ingin melawannya akan tetapi sorak sorai dukungan yang aku harapkan dari malah berbalik. Pekikan itu malah ditujukan untuk dia yang ingin kulawan. Aku kuatkan pikiranku, kutulikan telingaku, tanganku terkepal kuat. Perlahan tapi pasti, rasa itu membentuk tameng di sekitarku, meskipun gemetar kuambil langkah menghampirinya. Kutatap ia dengan tajam. Luapan keinginanku yang tertahan meledak keluar dari mulutku dan suara itu membuatku merasa menang. “ BIARKAN AKU TIDUR, ESTAN..!!”, Mataku terasa berat, tulang-tulangku lemah, bahkan tubuhku tidak mampu ku gerakkan, aku melihat diriku tersenyum, aku menang…
Dan aku pun terbang menemani dirinya, dengan senyum yang indah seperti yang kulihat saat ini.
Bibirku lemah mengucapkan lirih kata.. AKU SAYANG KAMU
Pukul 03:45
z..z..z..z..Z..Z..Z..Z..Z..Z..Z

Senin, Desember 15, 2008

Proud

Perasaan bangga dan takut menjalari leher ku membuatku merinding. Tapi aku bangga dengan karena saat ini, di tempat ini juga aku sungguh-sungguh menginginkannya. Yah.. yudisium.. bentuk penghormatan terakhir dari strata yang akan aku pikul di pundak untuk di pertanggung jawabkan ke hadapan masyarakat. Ah.. rasa yang menakjubkan. kerja keras, trik tipu-tipu, mengorbanan atas semua hasil dari bentuk penelitian yang aku lakukan untuk menipu institusi agar memberiku gelar terbayar sudah setelah 5 tahun perjuangan yang berat. Kelebatan bayangan akan kenangan melintas membuatku ingat akan kesalahan-kesalahanku pada para pendidik yang luar biasa sabar menghadapi kami dan tetap sabar memberikan kami ilmu yang juga luar biasa.
Sungguh perasaan yang tidak terlukiskan menerima bentuk kehormatan ini. Ini boleh di sebut sebagai hal yang menyenangkan untukku. Aku ingin berterima kasih kepada teman-teman yang turut membantu. I KNOW THEY DO. terimakasih sobat....

Rabu, Desember 10, 2008

Phini yang terdampat : Hambur Kata

Presisi antara kehadiran dan kenyataan berbanding tipis dengan kesadaran. Peter Pan dalam lagunyanya tak ada yang abadi mengatakan tak akan selamanya, kan berganti dengan yang baru. Tak ada yang abadi. Kehidupan mengalir bagai aliran air tak akan menetap disatu tempat, silih berganti. Suka, duka, dan rasa akan selalu berganti, satu waktu tanpa menetap selamanya akan tetapi terkadang meninggalkan bekas, berupa alasan dan pelarian yang dikumandangkan dengan berani. Tidak ada yang ingin di kemukakan secara spesifik dan berarti yang ada hanyalah kebebasan dalam ekspresi akan hal yang biasa terjadi, hal yang pribadi tanpa ada progres dalam usaha yang dilakukan. Menatap dunia dalam dua visi yang berbeda tetapi tetap pada objek yang sama, itu adalah anugerah dalam kebebasan itu sendiri, terkungkung dalam ilusi yang tiada habis-habisnya memaksa untuk melihat keterpaksaan sebagai alternatif yang indah untuk dijalani, dan kesenangan untuk di caci maki pada akhirnya.
Prinsip dan pendirian yang statis dapat fleksibel pada garis batas yang memungkinkan untuk perubahan itu sendiri apakah dikarenakan motivasi berupa dorongan dari luar ataupun berupa kesadaran diri yang meluap karena emosi yang meledak untuk mengeluarkan ekspresi jiwa yang monoton dan kesenangan pada satu sisi. Ikatan jiwa yang absatrak terkadang bisa menjadi jawaban dari permasalahan yang sulit untuk dipecahkan sebuah kepribadian yang monoton dalam pola garis kehidupan yang serba seimbang, Pola monoton merupakan suatu ketertarikan akan suatu perubahan yang tidak berubah. Kesenangan statis. Yang membawa opini publik sebagai urutan kedua dalam daftar yang tidak penting untuk dibicaran dalam kaitannya dengan perubahan yang perlu untuk kemajuanya itu sendiri.
Apa yang terjadi-terjadilah ( masih dalam versi peter Pan) Kita tahu bahwa TUHAN penyanyang umatnya. Pikiran seringkali menipu, fakta seringkali diputar balikkan, naluri hanya bergantung pada intuisi berupa pilihan rasa yang terjadi, pilihan hayalah pilihan itu sendiri yang kabur antara keinginan dan harapan akan terjadi. Kata-kata hanyalah angin sepoi-sepoi yang ingin menyenagkan kulit dengan belaian lembutnya. Apapun yang ada dalam pikiran mrupakan hasil dari perbuatan yang telah dijalani untuk diresapi, kehidupan hanyalah jam yang tidak berdetik maju sama sekali, atau masa lalu bukanlah waktu yang tertinggal untuk dikenang, masa depan adalah refleksi dari perbuatan akan wakt yang tidak bergerak dalam koordinatnya yang pasti. Takjub, heran, kagum, hanyalah bentuk ekspresi. Dipandang nyata ataupun abstrak merupakan pilihan dari pengalihan rasa dan tanggung jawab. Sebuah pertanyaan mengusik dengan berbagai lapisan alasan untuk menjawabnya, pembenaran diri sendiri demi persamaan tingkatan, pandangan masalah yang melarikan diri dari solusi, ataukah solusi yang tidak berarti dari masalah yang juga kecil dalam tingkatan dan membludak pecah tanpa kompromi dalam proses. Rasa yang dialami merupakan pecahan dari perasaan itu sendiri yang menginginkan bentuk kesempurnaan dalam keinginan.
Masyarakat dan individu merupakan bentuk lain dalam ekspresi diri untuk melihat proses garis yang di ciptakan untuk di jalani, inti dari kedaran diri yang ditangkap merupakan proses yang berjalan sebagai refleksi dari tindakan demi kemajuan pola kehidupan yang bergulir untuk anda. Kata adalah ujung tombak dari tindakan yang diperbuat baik sadar maupun tidak. Nyata dalam ucapan, cara yang biasa dalam ungkapan, langkah pertama ynag di lakukan tanpa sorotan akal dibawa oleh pikiran. Kata adalah alat komunikasi yang bisa berarti kesia-sian tanpa arti, akan tetapi disatu sisi yang positif dapat mendamaikan hati yang bergemuruh, di sisi lain yang negatif

Sekian Kata.



pro by Hindra

Sabtu, Desember 06, 2008

Lec: Node Ujian Akhirku

Ujian akhir suatu fase yang membawa kalangan mahasiswa menuju kematangan dalam pengetahuan dan wawasan, suatu langkah maju untuk belajar dan terjun kedalam kehidupan nyata sosial masyarakat.
Ujian akhir kata ini kadang membawa perasaan dalam suasana tertentu, antara bangga, gugup, takjub, tak percaya dan kenyataan. Susasana sakral penuh perjuangan untuk mencapai penyebutan gelar dan ijazah bagi diri. sarjana komputer, sarjana teknik xx, sarjana farmasi, ah... indah terdengar ditelinga, serasa eskrim yang paling lembut yang pernah dicecap, hm...
Tak terasa waktu dan perjuangan membawa aku ke fase yang luar biasa ini, membuatku merasa gelisah menunggu, deg-degan menghadapi dunia nyata. Sebuah pertanyaan menghantam benakku " Akan jadi apakah aku kelak setelah ini, gembong penjahat, orang biasa, ataukah panutan bagi yang memahami ???? "
Pertanyaan yang belum mampu aku jawab, akan tetapi di bantu dengan waktu dan usaha aku akan berusaha menjadi yang terbaik tanpa menginjak kaki orang lain untukk maju.
Senyumku akan ku sedekahkan kepada semua karena hatiku pecah dalam ceria melihat kalian tersenyum atau tanpa senyum kalian.

Aku lihat peluang
Aku ambil kesempatan
Aku Maju melangkah
Aku ....


Dunia here I come....................